Saturday, June 8, 2013

Sinopsis Drama Korea “Gu Family Book” Episode 1 [Part 1]

cover drama korea "gu family book", plot kreatif
Intro

“Ini gunung misterius. Tidak terjamah kaki manusia. Tempat makhluk gaib pelindung gunung terkadang suka menampakkan diri. Tempat yang dikenal sebagai Taman Cahaya Bulan. Di taman inilah, makhluk gaib pelindung Gunung Jiri tinggal selama seribu tahun.”

***

Biksu So Jung berlari terengah-engah. Ia mencari Wol Ryung, sahabat karibnya. Ketika sampai di tempat biasanya, ia tidak menemukan Wol Ryung berada di tempat. Tiba-tiba, Biksu So Jung menyadari sesuatu.

“Tidak, mungkinkah dia?” gumamnya dengan nada khawatir.

***

Pindah adegan I

Seorang laki-laki bergerak cepat di dalam hutan. Ia melompat tinggi melebihi pohon-pohon paling tinggi di hutan sekalipun. Laki-laki itu bernama Wol Ryung, sahabat Biksu So Jung, yang melindung Gunung Jiri.

Ketika sampai di tempat yang ditujunya, Wol Ryung berdiri dan mendengar suara genderang riuh sekali. Tampaknya ada pesta di tengah kota di bawah gunung. Wol Ryung tersenyum senang.

***

Pindah adegan II

Di tengah pesta, seorang wanita cantik menabuh lima genderang yang disusun berkeliling. Ia menari dan berputar sambil memukul genderang bergantian.

***

Pindah adegan III

Wol Ryung yang tertarik berlari mendekati tempat pesta itu. Saat mendekati tempat pesta, Wol Ryung melihat sebuah rombongan yang menarik perhatiannya. Ia berhenti dan memperhatikan dari atas pohon tidak jauh dari sana. Tampak dalam rombongan itu sebuah kerangkeng kayu berisi tiga manusia (dua gadis dan satu pemuda). Kerangkeng itu bawa oleh beberapa pengawal.

Rombongan berhenti begitu sampai di depan pintu tempat pesta. Salah seorang pengawal membuka kerangkeng dan menyuruh mereka turun. Ketiga orang yang ada di dalam kerangkeng itu diam saja, tapi akhirnya salah seorang gadis keluar dari kerangkeng. Sedangkan, gadis yang masih berada di dalam kerangkeng terlihat seperti gadis terhormat dengan pakaian terkena noda darah. Pengawal itu tidak sabaran, lalu menarik kaki si gadis hingga si gadis tersungkur ke tanah. Wol Ryung diam saja tidak melakukan apapun.

“Nona!” seru gadis yang pertama turun menghampiri si gadis yang tersungkur. Ternyata, gadis itu seorang pelayan.

Melihat hal tersebut, si pemuda bergegas keluar dari kerangkeng. Ia bertanya dengan khawatir, “Kakak, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?” Pemuda itu adik dari gadis yang terjatuh tadi. Hatinya panas. Dan ia langsung menghardik pengawal yang menarik Kakaknya tadi.

Pengawal itu cuma menyambutnya dengan tawa. Kemudian, mencibir dengan menyebut si pemuda adalah keturunan pengkhianat dan memerintahkannya berhenti bersikap laiknya seorang bangsawan.

Emosi pemuda itu meledak, sehingga ia membentaknya bak atasan membentak bawahannya. Pengawal marah dan mencengkeram pakaian pemuda itu. Gadis pelayan berusaha menolong Tuan Muda-nya.

“Lepaskan dia! Tidak bisakah kau memiliki sedikit perasaan? Siapa yang mengurus seluruh keluargamu selama ini? Bukankah Tuan kita? Bagaimana kau bisa berubah begitu drastis?” kata gadis pelayan.

Bukannya, mengikuti kata-kata gadis pelayan, pengawal malah tambah kesal lalu menghempaskan Tuan Muda ke tanah. Kemudian, pengawal mengetuk pintu tempat pesta. Dua pelayan muncul dari dalam. Pengawal berkata bahwa tugasnya sudah tunai dan ketiga tawanan akan diserahkan kepada mereka.

Salah seorangnya yang menjabat sebagai Kepala Pelayan menghampiri ketiganya. Ia meminta mereka semua masuk ke dalam.

“Tempat apa ini?” tanya Nona yang bernama Yoon Seo Hwa.

“Tempat apa? Apa kau tidak pernah mendengar Chunhwagwan?” tanya Kepala Pelayan.

“Chunhwagwan?! Bukankah itu tempat Gisaeng?” tukas Dam, gadis pelayan, terkejut.

Seo Hwa tahu apa itu Chunwagwan. Ia mengekspresikan kemarahannya.

***

Pindah adegan IV

Wanita penabuh genderang, yang bernama Chun Soo Ryun (Kepala Gisaeng Chunhwagwan), sudah menyelesaikan tariannya. Penonton bertepuk tangan, terdengar meriah.

***

Pindah adegan V

Di luar Seo Hwa bersikukuh tidak mau masuk. Kepala Pelayan mengatakan bahwa Seo Hwa sudah dijual sebagai Gisaeng Negara dan sebaiknya menurut. Jika memberontak atau menolak, maka Seo Hwa akan dihukum mati.

“Bunuh saja aku! Lebih baik aku mati daripada masuk ke sana!” pekik Seo Hwa.

“Dengar ya, saat ini aku betul-betul sibuk, karena sedang ada pesta pejabat. Jadi, masuklah, selama aku masih meminta baik-baik. Cepat masuk!” nada suara Kepala Pelayan terdengar tidak sabar. Ia pun menarik tangan Seo Hwa.

“Lepaskan aku! Sudah kubilang aku tidak mau masuk!” Seo Hwa berkata tegas. Dam dan Yoon (nama adik Seo Hwa) berupaya melepaskan Seo Hwa dari Kepala Pelayan.

“Keributan apa ini?” seorang wanita keluar dari dalam dengan suara yang tegas. Semuanya menoleh.

Wanita itu ternyata Gisaeng Chun. Ia keluar dengan para pengawalnya. Lalu, ia menatap tajam ketiga orang yang berdiri di hadapannya. Cuma Seo Hwa yang berani melawan tatapan tajamnya dengan penuh tekad.

“Siapa mereka?” tanya Gisaeng Chun kepada Kepala Pelayan.

“Mereka anak Wakil Menteri Yoon, yang baru dieksekusi gegara berkhianat,” jelas Kepala Pelayan.

“Pengkhianat? Kalau begitu mereka anak-anak pengkhianat negara!” ulang Gisaeng Chun.

“Hati-hati kalau bicara!” Seo Hwa marah mendengar pernyataan itu, “Ayah kami difitnah dan dijebak! Beliau tidak mungkin berkhianat!”

“Itu bukan urusanku,” sahut Gisaeng Chun. Dingin. “Pokoknya kau telah dijual sebagai Gisaeng Negara. Mulai sekarang kamu harus mengikuti aturan Gisaeng!”

“Tidak mau!” teriak Seo Hwa.

“Terserah, kau tidak punya pilihan lain!” ucapan Gisaeng Chun masih terdengar sinis.

“Tidak peduli, aku takkan masuk! Aku takkan menjadi Gisaeng rendahan,” kata Seo Hwa tegas.

“Gisaeng rendahan? Begitu ya? Jang So!” Gisaeng Chun memanggil pengawal. “Telanjangi dia!”

Seo Hwa tertegun. Pengawal-pengawal Gisaeng Chun mengelilingi ketiganya. Jang So tanpa ragu-ragu merobek pakaian Seo Hwa.

Dam kaget. “Nona!”

Yoon ikut berteriak agar Jang So menghentikan aksinya.

Sayang, keduanya ditahan para pengawal Gisaeng Chun.

Awalnya, Jang So merobek rok Seo Hwa, lalu merobek rok dalamnya. Seo Hwa kini cuma terbalut pakaian dalam saja sekarang. Seo Hwa terdiam, tapi tubuhnya gemetaran, menahan tangis, menahan amarah gegara penghinaan ini. Namun, ia berusaha menguasai diri dengan menggenggam pakaian dalamnya erat-erat. Walau begitu wajah Seo Hwa tetap memancarkan aura wanita bangsawan yang penuh harga diri.

“Ikat dia!” perintah Gisaeng Chun. Setelah itu, ia memerintahkan pengawal untuk mengurung Yoon dan Dam di gudang.

Para pengawal pun mengikuti perintah Gisaeng Chun pada sebatang pohon. Ia juga mengatakan agar Seo Hwa tetap diikat sampai ia memerintahkan untuk melepasnya. Pun tidak boleh ada yang memberinya makan maupun minum tanpa sepengetahuan dan perintah darinya.

Seo Hwa cuma bisa menatap Gisaeng Chun dengan perasaan shock dan benci. Gisaeng Chun membalas tatapan itu, namun ia tidak mengatakan apa-apa dan masuk ke dalam. Para pengawal membawa Yoon dan Dam ke dalam. Meninggalkan Seo Hwa di luar, sendirian. Lalu, memasukkan kedua orang itu ke dalam gudang.

Kepala Pelayan membersihkan pakaian Seo Hwa yang dirobek-robek Jang So tadi. Seo Hwa bertanya, mengapa ia diikat?

“Apa kau tidak tahu diikat pada pohon apa? Itu pohon aib. Gadis dari keluarga bangsawan yang keras kepala sepertimu akan jinak oleh pohon aib ini. Lepaskan harga dirimu sebagai bangsawan. Tinggalkan harga dirimu pada pohon itu. Pagi nanti, mintalah belas kasihan kepada Kepala Gisaeng. Minta maaf-lah. Atau kau akan merasakan penderitaan yang lebih buruk!” nasihat Kepala Pelayan. Lalu, Kepala Pelayan masuk. Seo Hwa berusaha memanggilnya. Tapi, Kepala Pelayan tidak menggubris teriakan itu.

“Bagaimana bisa kau melakukan hal ini pada manusia?! Lepaskan aku! Tolong lepaskan aku!” serunya sambil menangis, yang terdengar pilu menyayat hati.

Wol Ryung yang sedari tadi mengamati dari atas pohon kejadian itu merasa tersentuh. Butiran cahaya-cahaya biru seperti kunang-kunang melayang-layang di sekitarnya. Ia berdialog dengan dirinya sendiri. “Tidak. Aku tidak bisa. Aku telah berjanji pada So Jung untuk tidak mencampuri urusan manusia. Aku tidak bisa.” Wol Ryung pun beranjak pergi.

“Tolong, tolong aku…” Seo Hwa berkata lirih. Suara itu membuat Wol Ryung iba. Ia tidak tega meninggalkan Seo Hwa yang terus menerus menangis.

Bersambung >> [Tulisan belum selesai tapi saya ngebet ingin mempublish-nya]

Catatan: Sinopsis drama Korea terbaru "Gu Family Book" episode 1 [Part 1] ini terinspirasi dari post Fanny Kurniawan.